Senin, 29 September 2014

Cerpen Korea_Islami : Buku Petunjuk

Buku Petunjuk


Jiwaku menanyakan tentangMu
KeberadaanMu…
Ketika kau berikanku buku petunjuk
Hingga aku lebih mengenalMu melalui gadis itu

Sore itu, taman Namsan begitu ramai. Orang-orang menikmati sejuknya udara musim semi dan kehangatan bercengkrama dengan keluarga. Di sudut taman, Lina, seorang gadis berwajah Melayu sedang berkutat dengan laptopnya. Entah apa yang ia lakukan, namun sedari tadi jemarinya sibuk menari-nari di keyboard laptopnya. Gadis itu sedang terhanyut dalam dunianya sendiri, hingga ia tak menyadari bahwa awan-awan gelap telah berbaris rapi menutupi sinar sang mentari.
Teess! Setitik air mengenai telapak tangannya, barulah ia sadar bahwa hujan telah turun. Ia bergegas memasukkan laptop ke dalam tasnya lalu segera berlari mencari tempat berteduh. Angin memainkan ujung kerudungnya seperti mengejeknya. Ia berhasil sampai ditempat berteduh, tetapi pakaian yang dikenakannya sudah terlanjur basah kuyup.
Astaghfirullahaladzim.. Ya Allah, semoga aku tidak sakit” gumam Lina.
Hujan masih mengguyur hingga beberapa jam kemudian. Lina masih menunggu hingga hujan mereda. Akhirnya, ia putuskan untuk beranjak pergi, karena hujan hanya menyisakan rintik-rintik air. Lina melangkahkan kakinya menuju sebuah minimarket, ia hendak membeli makanan untuk mengisi perutnya yang sedari tadi sudah keroncongan. Ketika Lina hendak membayar, baru saja ada seorang laki-laki yang pergi dengan meninggalkan bukunya. Buku itu sangat tidak asing baginya. Ia segera berlari dengan mendekap erat buku itu, berusaha menemukan laki-laki yang meninggalkan buku itu.
            Kesana kemari Lina mencari, namun ia tak menemukan sosok yang sempat dilihatnya sekilas. Ia berjalan dengan cepat hingga tak melihat apa yang ada di depannya.
BRUKK!!
“Ahh.. sakit!” erang Lina yang terjatuh karena bertabrakan dengan seseorang.
“Maafkan aku, Nona! Apakah Anda tidak apa-apa? Maaf, aku sedang buru-buru”
“Iya, tidak apa-apa” Lina berusaha bangkit, ia baru menyadari bahwa laki-laki itulah yang ia cari.
“Maaf, apakah ini bukumu? Buku yang kau tinggalkan di minimarket tadi.”
“Waahh.. Benar sekali, itu adalah bukuku, aku terburu-buru karena ada telepon. Sampai-sampai aku  meninggalkan buku ini. Terimakasih, Nona, aku sangat menyukai buku ini, aku sudah membacanya berulang kali. Aku takut kalau buku ini hilang.”
“Buku itu, karangan LeeNa?”
“Ya, benar. Apakah kau juga penggemarnya? Aku benar-benar penasaran siapa LeeNa itu, karena dia begitu misterius, hanya ada sedikit keterangan di bukunya. Aku harap aku bisa bertemu dengannya dan menayakan padanya semua yang ada di bukunya”
Lina tersenyum simpul “Ya, aku juga berharap begitu.”
“Maaf, aku harus segera pergi, terimakasih karena sudah mengembalikan bukuku. Terimakasih.” Laki-laki itu bergegas pergi.
Lina kembali melangkah, hendak pulang ke rumahnya. “Siapa ya laki-laki itu, kenapa rasanya seperti aku pernah melihatnya?” gumam Lina.
Menulis di perpustakaan memang menyenangkan, itulah yang dipikirkan oleh Lina. Sudah sejak setahun lalu Lina selalu menulis di perpustakaan. Ketika ia kehabisan ide, atau sedang lelah menulis, maka ia akan membaca buku-buku yang ada di perpustakaan. Ya, Lina adalah gadis yang senang menulis dan membaca. Seperti saat ini, Lina sedang berkeliling perpustakaan mencari buku untuk dibacanya. Nampaknya Lina sudah lelah menulis selama 2 jam. Tanpa diduga, laki-laki itu juga ada di perpustakaan yang sama dengan Lina. Mulailah mereka berkenalan, dan membicarakan banyak hal. Barulah Lina tahu bahwa laki-laki itu adalah penyanyi Korea yang cukup terkenal, Seo In Woo.
Semenjak pertemuan itu, In Woo merasa ada sesuatu didalam diri Lina yang membuatnya tertarik. Lina mengenakan kain penutup pada rambutnya, sama seperti tokoh yang ada dalam novel karangan LeeNa. Dan itu benar-benar membuat In Woo penasaran. In Woo sendiri tidak tahu mengapa, tetapi In Woo selalu ingin melihat wajah cantik Lina dan ia pun merasa akan mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan terbesar dalam hidupnya yang muncul setelah ia membaca novel karangan LeeNa. Akhirnya, In Woo putuskan untuk mendekati Lina. Setiap hari mereka berkirim pesan singkat, Lina selalu mengirimkan rangkaian kata-kata indahnya sebagai penyemangat untuk In Woo.
Bersemangatlah untuk hari ini, tersenyumlah kepada dunia karena tersenyum adalah ibadah yang paling sederhana. Jangan pernah takut untuk melakukan hal-hal baik, karena akan selalu ada yang mencatatnya untukmu J
In Woo tersenyum memandangi layar ponselnya, sayangnya ia tidak bisa langsung membalasnya karena ia harus segera tampil di panggung.Lama kelamaan, hubungan mereka menjadi semakin dekat, In Woo menjadi semakin yakin atas perasaanya terhadap Lina. Tapi bagaimana dengan Lina? Apakah Lina merasakan hal yang sama dengan In Woo? Ya, Lina juga memiliki perasaan terhadap In Woo. Hanya saja, Lina menepis perasaan itu, dan berusaha untuk menghapusnya. Namun, In Woo tetap memberanikan dirinya.  In Woo berniat untuk menyatakan cintanya.
“Lina, selama ini kita sudah begitu dekat. Dan sepertinya aku, mmm… aku memiliki perasaan terhadapmu. Dan aku harap kau juga memiliki perasaan yang sama” In Woo masih nampak gugup bahkan setelah ia menyatakan perasaannya.
“Maaf, In Woo. Tapi aku tidak bisa. Kau belum bisa menjadi pendampingku” Lina beranjak pergi meninggalkan In Woo yang masih diam mematung.
“Linaaaa….” Barulah In Woo memanggil nama Lina setelah ia tak lagi nampak dalam pandangan In Woo.
Penolakan itu membuat In Woo kesal dan bingung, apa yang belum ada pada diri In Woo hingga ia belum pantas untuk Lina. Ia kaya, tampan, terkenal, lalu apa yang kurang?  Karena penolakan itu, In Woo berniat untuk menghapus Lina dari ingatannya, namun seberapa besar pun ia mencoba, ia tetap tidak bisa. Malahan, In Woo selalu memimpikan Lina memakai pakaian serba putih dengan wajahnya yang begitu bercahaya.
            Ketika In Woo sedang tidak ada jadwal manggung, ia memilih untuk pergi mencari Lina. Namun tidak untuk bertemu dengannya, ia hanya mengikuti Lina dan melihatnya dari kejauhan. Saat itu Lina sedang berjalan menuju masjid Itaewon, hendak melaksanakan shalat ashar. In Woo belum pernah melihat bangunan itu, diatasnya ada tulisan besar yang ia tidak bisa membacanya. Namun, ia tetap masuk karena sangat penasaran mengapa Lina memasuki bangunan itu.
“Maaf, jika Anda ingin masuk, tolong lepas sepatu Anda” ucap seorang laki-laki
“Ahh.. ya, maafkan saya” jawab In Woo sedikit malu
Begitu In Woo memasuki bangunan itu, ia merasakan suatu ketenangan dan kesejukan yang entah darimana ia dapatkan. Dalam pandangannya, orang-orang tengah melakukan gerakan secara bersamaan dengan salah satu orang sebagai pemimpinnya. Dan para wanita mengenakan kain panjang yang menutupi seluruh tubuhnya.  In Woo hanya duduk terpaku di sudut masjid itu, memejamkan mata mendalami ketenangan yang ia rasakan.
Sudah 1 bulan sejak kebiasaannya mengikuti Lina, In Woo pun selalu datang ke bangunan itu yang kini sudah ia ketahui namanya, bangunan itu adalah masjid, tempat beribadah untuk umat Muslim. In Woo kembali teringat pada novel karangan LeeNa : di bangunan bercahaya itu, orang-orang menyampaikan segala keluh kesahnya dalam setiap hembusan napas mereka.
In Woo melihat Lina yang telah beranjak keluar dari masjid, Ia hendak menyapa Lina. Tetapi sudah ada seseorang yang menyapa Lina terlebih dahulu.
“Kapan kau akan menerbitkan novel lagi? Aku sudah tidak sabar menunggu sejak aku membaca novel terakhirmu, Dalam Dekapan Rembulan.” ujar seorang perempuan
“Ya, doakan saja, semoga Allah memberi saya kemudahan untuk segera menyelesaikan novel saya.” Lina tersenyum simpul
Setelah orang itu pergi, In Woo menemui Lina. Dan suatu kejutan besar untuk In Woo, karena Lina lah penulis dari buku-buku yang selama ini begitu menyentuh kalbunya. Buku-buku yang membuatnya bertanya-tanya tentang tujuan orang hidup di dunia ini. Bahkan buku itulah yang mengantarkan In Woo dan Lina bertemu. Kini In Woo tahu mengapa dirinya belum pantas untuk Lina, Lina adalah seorang Muslim, sedangkan dirinya seorang atheis. Dalam agama Lina, tidak sah suatu pernikahan bila pasangan memiliki agama yang berbeda.
“Baiklah Lina, kalau memang itu alasannya, aku akan mengikuti agamamu.” Ujar In Woo
“Tidak In Woo, tidak. Kau tidak bisa masuk Islam karena cintamu kepadaku, tetapi masuklah Islam ketika keyakinan itu benar-benar berasal dari lubuk hatimu dan karena keinginanmu untuk mencintai Sang Pemilik Alam.” Lina segera beranjak pergi.
Lama sekali In Woo merenungkan apa yang dikatakan Lina. Berhari-hari ia menanyakan pada dirinya sendiri tentang apa yang diinginkannya. Hingga di suatu malam yang dingin, ia putuskan untuk datang ke masjid Itaewon. Ia bersujud seperti apa yang orang-orang lakukan, saat itulah cahaya melingkupi tubuh In Woo, mengukungnya. In Woo merasakan sekali sentuhan dari cahaya itu, hingga muncul pertanyaan-pertanyaan dari dirinya sendiri. Selama ini hal-hal buruk apa yang telah ia lakukan? Kenangan-kenangannya terputar, membuat In Woo merasakan sesak, membuatnya menangis. Hingga In Woo pun  tertidur dalam sujudnya.
Seseorang mengguncangkan tubuh In Woo perlahan, membangunkannya. Saat In Woo bangun langsunglah ia memeluk laki-laki itu, Father Mufti, biasa ia disapa. Ia adalah pengurus masjid Itaewon. Melalui Father Mufti, In Woo masuk Islam.Kemudian  Father Mufti memberinya nama Umar, seperti nama sahabat Rasulullah yang juga memeluk Islam setelah mendapatkan hidayah dari Allah. Father Mufti banyak bercerita tentang Lina, mulai dari kedatangan pertamanya ke Masjid Itaewon, perjuangannya untuk membangun tempat shalat di Seoul National University, tempat Lina berluliah, hingga keahlian Lina dalam merangkai kalimat-kalimat yang indah dan memasukkan nilai-nilai Islam dalam setiap bukunya.
“Ia berkata dengan semangat kepadaku kala itu, Aku ingin menjadi penulis, Father. Aku ingin berdakwah melalui tulisan-tulisanku, aku ingin orang-orang Korea menemukan Islam melalui buku–buku ku” Father Mufti tersenyum mengingat wajah Lina yang penuh kebahagiaan ketika mengucapkan itu
“Lalu, dimana Lina sekarang, Father? Apa dia pulang ke negaranya?”
“Ya, dia kembali ke Indonesia 2 minggu yang lalu karena ayahnya sakit”
“Kurasa dia pergi untuk menghindariku. Mungkin dia tidak punya perasaan terhadapku.”
“Tidak, itu tidaklah benar. Pergilah, susul dia. Dan lamarlah ia!”
In Woo tidak menyusul Lina begitu saja, selama dua bulan ia menambah pengetahuannya tentang Islam, dan menyiapkan dirinya untuk menjadi imam yang baik bagi Lina. Bertepatan dengan konsernya di Indonesia, ia datang menemui Lina, berbekal alamat yang father Mufti berikan.
Assalamu’alaikum
Waalaikumsalam… In Woo? Mengapa kau kemari?”
In Woo tersenyum “Sekarang namaku Umar. Dan aku datang untuk melamarmu, Lina.”
Lina tersenyum bahagia.

Akhirnya, mereka berdua menikah. Mereka memutuskan untuk menetap di Korea. Dengan semangat yang membara, mereka berdakwah dan menyebarkan Islam di Korea. Mereka ingin orang-orang Korea mengenal Islam dan mulai bangkit dari kejahiliyahan. Mereka tak akan menyerah meski orang-orang disana akan sulit untuk menerima Islam. Karena mereka yakin Allah akan memberikan kemudahan jika benar-benar ada kemauan dan niat yang baik dalam hati mereka dan Allah akan memberikan hidayah-Nya bagi orang-orang yang melihat dan mendengar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar