Buku
Petunjuk
Jiwaku
menanyakan tentangMu
KeberadaanMu…
Ketika
kau berikanku buku petunjuk
Hingga
aku lebih mengenalMu melalui gadis itu
Sore itu, taman Namsan
begitu ramai. Orang-orang menikmati sejuknya udara musim semi dan kehangatan
bercengkrama dengan keluarga. Di sudut taman, Lina, seorang gadis berwajah
Melayu sedang berkutat dengan laptopnya. Entah apa yang ia lakukan, namun
sedari tadi jemarinya sibuk menari-nari di keyboard laptopnya. Gadis itu sedang
terhanyut dalam dunianya sendiri, hingga ia tak menyadari bahwa awan-awan gelap
telah berbaris rapi menutupi sinar sang mentari.
Teess! Setitik air
mengenai telapak tangannya, barulah ia sadar bahwa hujan telah turun. Ia
bergegas memasukkan laptop ke dalam tasnya lalu segera berlari mencari tempat
berteduh. Angin memainkan ujung kerudungnya seperti mengejeknya. Ia berhasil
sampai ditempat berteduh, tetapi pakaian yang dikenakannya sudah terlanjur basah
kuyup.
“Astaghfirullahaladzim..
Ya Allah, semoga aku tidak sakit” gumam Lina.
Hujan masih mengguyur
hingga beberapa jam kemudian. Lina masih menunggu hingga hujan mereda.
Akhirnya, ia putuskan untuk beranjak pergi, karena hujan hanya menyisakan
rintik-rintik air. Lina melangkahkan kakinya menuju sebuah minimarket, ia hendak membeli makanan untuk mengisi perutnya yang
sedari tadi sudah keroncongan. Ketika Lina hendak membayar, baru saja ada
seorang laki-laki yang pergi dengan meninggalkan bukunya. Buku itu sangat tidak
asing baginya. Ia segera berlari dengan mendekap erat buku itu, berusaha
menemukan laki-laki yang meninggalkan buku itu.
Kesana
kemari Lina mencari, namun ia tak menemukan sosok yang sempat dilihatnya
sekilas. Ia berjalan dengan cepat hingga tak melihat apa yang ada di depannya.
BRUKK!!
“Ahh.. sakit!” erang Lina yang terjatuh karena
bertabrakan dengan seseorang.
“Maafkan aku, Nona! Apakah Anda tidak apa-apa? Maaf,
aku sedang buru-buru”
“Iya, tidak apa-apa” Lina berusaha bangkit, ia baru
menyadari bahwa laki-laki itulah yang ia cari.
“Maaf, apakah ini bukumu? Buku yang kau tinggalkan
di minimarket tadi.”
“Waahh.. Benar sekali, itu adalah bukuku, aku
terburu-buru karena ada telepon. Sampai-sampai aku meninggalkan buku ini. Terimakasih, Nona, aku
sangat menyukai buku ini, aku sudah membacanya berulang kali. Aku takut kalau
buku ini hilang.”
“Buku itu, karangan LeeNa?”
“Ya, benar. Apakah kau juga penggemarnya? Aku
benar-benar penasaran siapa LeeNa itu, karena dia begitu misterius, hanya ada
sedikit keterangan di bukunya. Aku harap aku bisa bertemu dengannya dan
menayakan padanya semua yang ada di bukunya”
Lina tersenyum simpul “Ya, aku juga berharap begitu.”
“Maaf, aku harus segera pergi, terimakasih karena
sudah mengembalikan bukuku. Terimakasih.” Laki-laki itu bergegas pergi.
Lina kembali melangkah, hendak pulang ke rumahnya.
“Siapa ya laki-laki itu, kenapa rasanya seperti aku pernah melihatnya?” gumam
Lina.
Menulis di perpustakaan
memang menyenangkan, itulah yang dipikirkan oleh Lina. Sudah sejak setahun lalu
Lina selalu menulis di perpustakaan. Ketika ia kehabisan ide, atau sedang lelah
menulis, maka ia akan membaca buku-buku yang ada di perpustakaan. Ya, Lina
adalah gadis yang senang menulis dan membaca. Seperti saat ini, Lina sedang berkeliling
perpustakaan mencari buku untuk dibacanya. Nampaknya Lina sudah lelah menulis
selama 2 jam. Tanpa diduga, laki-laki itu juga ada di perpustakaan yang sama
dengan Lina. Mulailah mereka berkenalan, dan membicarakan banyak hal. Barulah
Lina tahu bahwa laki-laki itu adalah penyanyi Korea yang cukup terkenal, Seo In
Woo.
Semenjak pertemuan itu,
In Woo merasa ada sesuatu didalam diri Lina yang membuatnya tertarik. Lina
mengenakan kain penutup pada rambutnya, sama seperti tokoh yang ada dalam novel
karangan LeeNa. Dan itu benar-benar membuat In Woo penasaran. In Woo sendiri
tidak tahu mengapa, tetapi In Woo selalu ingin melihat wajah cantik Lina dan ia
pun merasa akan mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan terbesar dalam
hidupnya yang muncul setelah ia membaca novel karangan LeeNa. Akhirnya, In Woo
putuskan untuk mendekati Lina. Setiap hari mereka berkirim pesan singkat, Lina
selalu mengirimkan rangkaian kata-kata indahnya sebagai penyemangat untuk In
Woo.
Bersemangatlah
untuk hari ini, tersenyumlah kepada dunia karena tersenyum adalah ibadah yang
paling sederhana. Jangan pernah takut untuk melakukan hal-hal baik, karena akan
selalu ada yang mencatatnya untukmu J
In Woo tersenyum
memandangi layar ponselnya, sayangnya ia tidak bisa langsung membalasnya karena
ia harus segera tampil di panggung.Lama kelamaan, hubungan mereka menjadi
semakin dekat, In Woo menjadi semakin yakin atas perasaanya terhadap Lina. Tapi
bagaimana dengan Lina? Apakah Lina merasakan hal yang sama dengan In Woo? Ya,
Lina juga memiliki perasaan terhadap In Woo. Hanya saja, Lina menepis perasaan
itu, dan berusaha untuk menghapusnya. Namun, In Woo tetap memberanikan
dirinya. In Woo berniat untuk menyatakan
cintanya.
“Lina, selama ini kita
sudah begitu dekat. Dan sepertinya aku, mmm… aku memiliki perasaan terhadapmu.
Dan aku harap kau juga memiliki perasaan yang sama” In Woo masih nampak gugup
bahkan setelah ia menyatakan perasaannya.
“Maaf, In Woo. Tapi aku
tidak bisa. Kau belum bisa menjadi pendampingku” Lina beranjak pergi
meninggalkan In Woo yang masih diam mematung.
“Linaaaa….” Barulah In
Woo memanggil nama Lina setelah ia tak lagi nampak dalam pandangan In Woo.
Penolakan itu membuat
In Woo kesal dan bingung, apa yang belum ada pada diri In Woo hingga ia belum
pantas untuk Lina. Ia kaya, tampan, terkenal, lalu apa yang kurang? Karena penolakan itu, In Woo berniat untuk
menghapus Lina dari ingatannya, namun seberapa besar pun ia mencoba, ia tetap
tidak bisa. Malahan, In Woo selalu memimpikan Lina memakai pakaian serba putih dengan
wajahnya yang begitu bercahaya.
Ketika In Woo sedang tidak ada jadwal
manggung, ia memilih untuk pergi mencari Lina. Namun tidak untuk bertemu
dengannya, ia hanya mengikuti Lina dan melihatnya dari kejauhan. Saat itu Lina
sedang berjalan menuju masjid Itaewon, hendak melaksanakan shalat ashar. In Woo belum pernah melihat
bangunan itu, diatasnya ada tulisan besar yang ia tidak bisa membacanya. Namun,
ia tetap masuk karena sangat penasaran mengapa Lina memasuki bangunan itu.
“Maaf, jika Anda ingin masuk, tolong lepas sepatu
Anda” ucap seorang laki-laki
“Ahh.. ya, maafkan saya” jawab In Woo sedikit malu
Begitu In Woo memasuki
bangunan itu, ia merasakan suatu ketenangan dan kesejukan yang entah darimana
ia dapatkan. Dalam pandangannya, orang-orang tengah melakukan gerakan secara
bersamaan dengan salah satu orang sebagai pemimpinnya. Dan para wanita
mengenakan kain panjang yang menutupi seluruh tubuhnya. In Woo hanya duduk terpaku di sudut masjid
itu, memejamkan mata mendalami ketenangan yang ia rasakan.
Sudah 1 bulan sejak kebiasaannya mengikuti Lina, In
Woo pun selalu datang ke bangunan itu yang kini sudah ia ketahui namanya,
bangunan itu adalah masjid, tempat beribadah untuk umat Muslim. In Woo kembali
teringat pada novel karangan LeeNa : di
bangunan bercahaya itu, orang-orang
menyampaikan segala keluh kesahnya dalam setiap hembusan napas mereka.
In Woo melihat Lina yang telah beranjak keluar dari
masjid, Ia hendak menyapa Lina. Tetapi sudah ada seseorang yang menyapa Lina
terlebih dahulu.
“Kapan kau akan menerbitkan novel lagi? Aku sudah
tidak sabar menunggu sejak aku membaca novel terakhirmu, Dalam Dekapan Rembulan.”
ujar seorang perempuan
“Ya, doakan saja, semoga Allah memberi saya
kemudahan untuk segera menyelesaikan novel saya.” Lina tersenyum simpul
Setelah orang itu
pergi, In Woo menemui Lina. Dan suatu kejutan besar untuk In Woo, karena Lina
lah penulis dari buku-buku yang selama ini begitu menyentuh kalbunya. Buku-buku
yang membuatnya bertanya-tanya tentang tujuan orang hidup di dunia ini. Bahkan
buku itulah yang mengantarkan In Woo dan Lina bertemu. Kini In Woo tahu mengapa
dirinya belum pantas untuk Lina, Lina adalah seorang Muslim, sedangkan dirinya
seorang atheis. Dalam agama Lina, tidak sah suatu pernikahan bila pasangan
memiliki agama yang berbeda.
“Baiklah Lina, kalau memang itu alasannya, aku akan
mengikuti agamamu.” Ujar In Woo
“Tidak In Woo, tidak. Kau tidak bisa masuk Islam
karena cintamu kepadaku, tetapi masuklah Islam ketika keyakinan itu benar-benar
berasal dari lubuk hatimu dan karena keinginanmu untuk mencintai Sang Pemilik
Alam.” Lina segera beranjak pergi.
Lama sekali In Woo
merenungkan apa yang dikatakan Lina. Berhari-hari ia menanyakan pada dirinya
sendiri tentang apa yang diinginkannya. Hingga di suatu malam yang dingin, ia
putuskan untuk datang ke masjid Itaewon. Ia bersujud seperti apa yang
orang-orang lakukan, saat itulah cahaya melingkupi tubuh In Woo, mengukungnya.
In Woo merasakan sekali sentuhan dari cahaya itu, hingga muncul
pertanyaan-pertanyaan dari dirinya sendiri. Selama ini hal-hal buruk apa yang
telah ia lakukan? Kenangan-kenangannya terputar, membuat In Woo merasakan
sesak, membuatnya menangis. Hingga In Woo pun tertidur dalam sujudnya.
Seseorang mengguncangkan tubuh In Woo perlahan,
membangunkannya. Saat In Woo bangun langsunglah ia memeluk laki-laki itu,
Father Mufti, biasa ia disapa. Ia adalah pengurus masjid Itaewon. Melalui Father
Mufti, In Woo masuk Islam.Kemudian Father
Mufti memberinya nama Umar, seperti nama sahabat Rasulullah yang juga memeluk
Islam setelah mendapatkan hidayah dari Allah. Father Mufti banyak bercerita
tentang Lina, mulai dari kedatangan pertamanya ke Masjid Itaewon, perjuangannya
untuk membangun tempat shalat di Seoul National University, tempat Lina
berluliah, hingga keahlian Lina dalam merangkai kalimat-kalimat yang indah dan
memasukkan nilai-nilai Islam dalam setiap bukunya.
“Ia berkata dengan semangat kepadaku kala itu, Aku
ingin menjadi penulis, Father. Aku ingin berdakwah melalui tulisan-tulisanku,
aku ingin orang-orang Korea menemukan Islam melalui buku–buku ku” Father Mufti
tersenyum mengingat wajah Lina yang penuh kebahagiaan ketika mengucapkan itu
“Lalu, dimana Lina sekarang, Father? Apa dia pulang
ke negaranya?”
“Ya, dia kembali ke Indonesia 2 minggu yang lalu
karena ayahnya sakit”
“Kurasa dia pergi untuk menghindariku. Mungkin dia
tidak punya perasaan terhadapku.”
“Tidak, itu tidaklah benar. Pergilah, susul dia. Dan
lamarlah ia!”
In Woo tidak menyusul
Lina begitu saja, selama dua bulan ia menambah pengetahuannya tentang Islam,
dan menyiapkan dirinya untuk menjadi imam yang baik bagi Lina. Bertepatan
dengan konsernya di Indonesia, ia datang menemui Lina, berbekal alamat yang
father Mufti berikan.
“Assalamu’alaikum”
“Waalaikumsalam…
In Woo? Mengapa kau kemari?”
In Woo tersenyum “Sekarang namaku Umar. Dan aku
datang untuk melamarmu, Lina.”
Lina tersenyum bahagia.
Akhirnya, mereka berdua menikah. Mereka memutuskan
untuk menetap di Korea. Dengan semangat yang membara, mereka berdakwah dan
menyebarkan Islam di Korea. Mereka ingin orang-orang Korea mengenal Islam dan
mulai bangkit dari kejahiliyahan. Mereka tak akan menyerah meski orang-orang
disana akan sulit untuk menerima Islam. Karena mereka yakin Allah akan memberikan
kemudahan jika benar-benar ada kemauan dan niat yang baik dalam hati mereka dan
Allah akan memberikan hidayah-Nya bagi orang-orang yang melihat dan mendengar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar