Selasa, 14 Oktober 2014

FF (Waiting for Happiness) Han Hyo Joo~Jung Il Woo

Waiting for Happiness
Cast:    Han Hyo Joo
            Jung Il Woo
            Go Hye Sun
            Moon Chae Won
Genre : Romance
 Author : Sung Young

Annyeong :) Kali ini saya memposting ff dengan tokoh Han Hyo Joo dan Jung Il Woo. Berdasarkan pengalaman pribadi, susah banget buat nyari ff dengan tokoh pemain drama korea. Kebanyakan sih ff dengan tokoh penyanyi. ff ini murni hasil pemikiran saya.. Selamat membaca~ 


Desiran lembut mengalir dalam darahku
Bagaikan sengatan-sengatan listrik yang menggelitik tubuhku
Mengapa seperti itu? Aku tak tahu menahu
Aku tak mengerti apapun tentang itu, aku tidak tahu
Hingga tersadarlah diriku
Aku mencintaimu, tak peduli apapun yang kau lakukan tuk sakiti aku

Aku hanyalah seorang yang bodoh
Yang tak bisa melihat dengan benar
Yang selalu mengelak pada kebenaran
Hingga aku menyadari
Aku sakit ketika kau pergi
Aku sakit ketika kau bersedih


Han Hyo Joo POV
Tiga tahun adalah waktu yang cukup lama bagiku. Cukup lama karena selama tiga tahun ini aku hidup dalam ketidakpastian cinta yang semu. Entahlah aku pun bingung aku harus bagaimana. Ketika aku berusaha melepasmu kau malah seolah memberikan harapan untukku. Membuat ku selalu goyah, membuatku selalu bingung harus bagaimana. Dan kau lah satu-satunya namja yang membuatku menangis dan tertawa di waktu yang hampir bersamaan. Jung Il Woo, ingin aku berteriak di depan mu dan mengatakan semua yang aku rasa karenamu. Bahkan aku ingin memukulmu, Il Woo. Karena kau tak pernah peduli dengan rasa sakit dan sesak yang aku rasakan karena mencintaimu.
“Hyo Joo-ah kenapa kau melamun saja, cepat kerjakan soal di depan” Ucapan guru ku membuyarkan lamunan ku.
“Nde seongsaengnim” ucapku lirih.
“Hye Sun-ah bagaimana caranya?” aku bertanya pada sahabat baik ku.
“Molla siapa suruh kau melamun kan Joong Ki terus” jawab Hye Sun.
Ahh,.. jawaban Hye Sun membuatku sebal. Kenapa dia tidak mau memberi tahu ku
Aku pun maju dan mengerjakan soal itu. Untunglah aku masih mengingat cara mengerjakan soal kimia itu jadi aku tidak perlu mendapat hukuman dari guruku.
“ Go Hye Sun awas kau !!” gerutu ku dalam hati
                                                            --00--
“Yaa!! Hye Sun-ah kenapa kau tidak membantuku tadi?” tanya ku kesal
“Mianhae Hyo Joo-ah.. Tapi aku benar-benar kasihan padamu. Aku ingin kau melupakan Il Woo dan hidup bahagia dengan orang lain”
“Tapi, aku tidak bisa Hye Sun-ah. Aku sudah mencoba berkali kali untuk melupakannya tapi tetap tidak bisa. Kau kan tahu, Il Woo adalah cinta pertamaku Hye Sun-ah”
“Tapi ia tak pernah menganggap mu, Hyo Joo. Dia tak pernah mencintaimu. Lalu kenapa kau masih saja memperjuangkan orang sepertinya?”
“Sudahlah Hye Sun-ah kau tak pernah mengerti”
Aku berlalu meninggalkan sahabatku. Sungguh, aku tidak ingin bertengkar lebih hebat lagi dengan Hye Sun hanya karena masalah cinta pertama ku.
                                                            --00--
Aku melangkah perlahan menyusuri jalan berbatu ini. Aku hanya menundukkan kepalaku dan memandangi warna-warni bebatuan yang disusun rapi di jalan yang tengah aku pijaki. Sesekali angin  berhembus memainkan ujung rambutku, seperti tengah mengejek atas kesendirianku. Aku tak menghiraukan orang-orang yang tengah berbahagia di taman ini, yang aku lakukan hanyalah merutuki diriku yang begitu bodoh ini. Entah sihir apa yang kau berikan padaku, Il Woo. Hingga aku menjadi seperti ini.
Aku sudah lelah berjalan dengan terus menyesali diriku.  Aku putuskan untuk duduk di bawah pohon sakura di tengah taman itu. Namun baru beberapa langkah aku berjalan, sesuatu yang tak asing tertangkap dalam pandanganku. Dia…. Ya, dia disana bersama dengan seorang yeoja. Dan mereka tampak bahagia sekali. Il Woo sedang tiduran dengan kepala yang berada dalam pangkuan gadis itu.
Aku memilih pergi, segera aku menjauh dari tempat itu sebelum hatiku semakin tersayat. Mungkin benar, aku harus benar-benar menyerah kali ini. Sudah berapa gadis yang dipacari Il Woo ketika dia memberi harapan dalam hidupku? Entahlah, 5 atau 7 ? Aku bahkan tidak ingat. Baiklah, aku bisa!! Hyo Joo, kau pasti bisa melupakan Il Woo!!
--00--
Jung Il Woo POV
Kenapa dia beberapa hari ini tak mengirim sms untukku? Bukankah hampir setiap hari dia selalu mengirim sms untukku? Dan entah kenapa rasanya aku merindukannya…
Hyo Joo, aku merindukanmu….
Jung Il Woo, apa yang kau pikirkan? apa kau sudah gila? Kau pasti hanya sekedar kesepian saja. Aku langsung menghapus sms yang hendak aku kirimkan pada Hyo Joo. Aaarrgghh.. ini semua tidak berguna. Aku mengacak-acak rambutku dengan asal. Baiklah, baiklah… Aku akan mengirim sms untukmu.
*Flashback*
“Apa yang sedang kau lakukan? Bukankah sedari tadi kau belum istirahat? Lebih baik kau segera beristirahat, kau bisa sakit jika kau tidak makan”
“Hyo Joo.. kau ini kenapa? Kenapa kau bahkan lebih perhatian dibanding kekasihkuku, hah?? Aku sedang sibuk sekarang, aku tidak punya waktu lagi. Aku harus segera menyelesaikan gambar ini. Ini adalah gambar yang akan kuberikan pada kekasihku. Jadi berhentilah menggangguku!”
“Maaf, maafkan aku. Yasudah, lanjutkan saja kau menggambar. Aku hanya mengkhawatirkanmu”
Betapa bodohnya aku karena terpancing emosi sampai membentakmu seperti itu. Bahkan aku lebih bodoh lagi karena dulu tak menyadari perubahan ekspresimu Hyo Joo, dan aku tidak meminta maaf bahkan setelah membuatmu menangis hari itu.
“Il Woo, tunggu sebentar. Tak bisakah kau berjalan lebih pelan?”
“Hyo Joo, aku harus buru-buru.. Aku tidak mau membuat yeojachinguku marah. Kau sendiri kan tahu, aku sudah bersusah payah demi mendapatkannya. Jadi tolong mengertilah Hyo Joo”
“Il Woo, tung………….. ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu.”
Bahkan saat itu aku lebih bodoh lagi, aku meninggalkanmu begitu saja hanya demi gadis yang tak pernah benar-benar menerimaku apa adanya. Hadiah yang kau letakkan di lokerku itu sungguh aku menyukainya Hyo Joo. Bahkan kau lebih tahu barang apa yang aku inginkan melebihi orang lain.
--00—
Han Hyo Joo POV
Drrrtt…. Aku membuka layar ponselku. Tertera dilayar ponselku nama seseorang yang sangat tak kuharapkan smsnya itu. Arrgghh… Jung Il Woo, kenapa kau mengirim pesan disaat yang tidak tepat? Aku membukanya dengan malas.
“Hyo Joo, sedang apa kau? Aku bingung harus melakukan apa”
Apa? Kau bingung harus melakukan apa? Cihh, kenapa kau tak merayu yeoja chingumu saja sana. Ucapku dengan ketus. Sudah beberapa hari aku tak mengirimkan sms padanya. Ya, biasanya aku selalu mengirimkan sms untuknya. Kalau aku pikir-pikir lagi aku memang seperti wanita murahan, dan sungguh aku mengutuk diriku yang bertindak begitu. Tapi tetap saja aku kalah dengan nafsuku, aku tidak bisa mencegah diriku.
 Aku tak membalas pesannya. Aku memilih membaca fanfiction untuk mengalihkan perhatianku. Menyibukkan diri menjadi satu-satunya cara agar aku bisa menahan diri untuk tidak membalas pesannya.
Hikkss… Air mataku menetes dengan deras, tak terasa sudah beberapa ff yang aku baca dan semua ff itu bergenre sad romance. Memang bukan pilihan yang baik membaca ff bergenre sad romance ketika aku sedang sedih seperti ini. Namun sama halnya dengan orang-orang yang memutar lagu sedih ketika mereka sedang galau, aku menikmati tetes demi tetes air mata yang mengalir dari mataku.
Ponselku kembali bergetar
“Hyo Joo, apa kau marah? Tumben sekali kau tidak membalas smsku”
Aku terpaksa membalas pesannya. Karena aku benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan semua ini. Apakah aku harus mengungkapkan semuanya saat ini?
“Kenapa kau begitu?”
“Begitu? Begitu bagaimana?”
“Kalau kau bingung harus berbuat apa, rayu saja yeojachingumu itu!”
“Hahaha.. Apa kau cemburu Hyo Joo ?”
“Cemburu? Apa?”
“Aku tahu kau pasti cemburu kan?”
“Hah.. dasar! Namja macam apa kau ini? Kau tahu kalau aku cemburu?”
“Tentu, semuanya tergambar jelas”
“Kalau kau tahu lalu kenapa kau begini? Apa kau sengaja mau mempermainkanku?” Mataku mulai memanas
“Aku juga tidak tahu mengapa dan harus bagaimana. Yang aku tahu aku menyukainya, tetapi aku juga menyukaimu mungkin”
Apa? Jadi kau selama ini memang mempermainkanku? Seharusnya aku sudah tahu pasti.
Lalu, tidak bisakah kau memilih? Apa kau tahu kau menyakitiku?”
“Aku tidak bisa memilih, maaf.. aku tahu aku telah cukup banyak menyakitimu. Aku benar-benar menyesal Hyo Joo”
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Aku tidak tahu, itu semua terserah padamu. Tapi aku minta padamu untuk bertahan. Dan biarkan waktu yang menjawab semua ini”
Aku benar-benar tidak bisa membendung air mataku lagi, air mataku telah menetes dengan deras, bahkan melebihi hujan lebat  yang turun malam ini. Aku menangisi diriku sendiri, menangisi diriku yang begitu bodoh ini. Bukankah sejak awal aku sudah tahu jika dia memang hanya mempermainkanku? Tapi aku malah menutup mata dan telingaku, terlalu menikmati keindahan yang semu ini. Seharusnya aku sudah sadar sejak awal ketika aku merasa dekat dengannya dan terlalu optimis bahwa dia akan menyatakan cintanya padaku tetapi beberapa hari setelahnya aku mendengar kabar bahwa Il Woo sedang berpacaran dengan Chae Won, salah satu gadis yang mengikuti ekstrakulikuler yang sama dengan Il Woo. Dan yang membuatku sakit adalah aku tidak pernah tahu jika Chae Won dekat dengan Il Woo, bahkan Il Woo tidak pernah bercerita sedikitpun mengenai Chae Won kepadaku. Dan aku semakin menyadari, aku memang gadis yang bodoh, sangat bodoh!! Aku menangis sejadi-jadinya. Sakit sekali rasanya, rasanya seperti aku memotong jariku sendiri dengan pisau yang tumpul.
                                                            --00—

Ini malam minggu, atau lebih tepatnya sabtu malam bagiku? Hahaha.. Aku menertawai diriku sendiri. Ahh..sudahlah. Lebih baik aku menikmati keindahan Seoul malam ini. Aku bisa melihat dengan jelas dari atas sini, kerlap-kerlip lampu dari kendaraan maupun gedung-gedung yang indah. Ditambah lagi, bulan purnama sedang memancarkan keindahannya. Bulat sempurna. Tak terasa ada sesuatu yang membasahi pipiku, tetapi aku tetap tersenyum. Semua ini terasa damai bagiku.
Malam semakin larut, aku putuskan untuk pulang. Aku berjalan dengan terhuyung, entah kenapa rasanya aku mengantuk sekali, sungguh tak tertahankan. Akhirnya aku sampai di halte, tinggal menunggu bus lalu aku akan segera sampai rumah dan pergi tidur. Tapi kenapa busnya lama sekali? Ini sudah setengah jam dan menunggu seperti ini membuatku semakin mengantuk, hingga tak kusadari mataku terpejam.
            Aku merasa seperti ada sesuatu yang menyentuh bibirku, dan rasanya hangat. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku.
Jung Il Woo POV
Setahun sudah sejak kejadian malam itu. Malam ketika Hyo Joo mengutarakan rasa sakitnya padaku. Aku begitu bodoh, kemana saja aku selama ini hingga tak pernah memandang gadis yang selalu ada untukku? Penyesalan memang selalu datang terlambat. Ya, terlambat.. Karena ia telah memutuskan untuk berhenti, berhenti menunggu laki-laki bodoh sepertiku. Dia menghilang begitu saja, beberapa bulan setelahnya aku baru tahu jika ia pindah ke SMA khusus perempuan. Aku tahu, ia menghindariku. Dan itu semua berhasil, aku tak pernah bertemu dengannya selama 1 tahun ini. Hingga aku tak sengaja melihatnya sedang tertidur dihalte. Aku ragu untuk menghampirinya, tetapi hatiku menggerakkan kedua kakiku untuk melangkah mendekatinya. Oohh.. Kau cantik sekali Hyo Joo, apalagi dengan sinar rembulan yang menyinari wajahmu. Aku tak tahu mengapa aku tiba-tiba melakukan ini. Aku mendekatkan wajahku lalu mengecup bibirnya.
Ia terbangun dari tidurnya, ia nampak kaget sekali. Segera ia mendorong tubuhku menjauh darinya.
“Apa yang kau lakukan Il Woo?” tanyanya dengan napas tersengal karena menahan air mata.
“Maafkan aku. Tapi aku merindukanmu, Hyo Joo. Sudah satu tahun semenjak terakhir kita bertemu, dan kau tak pernah menghubungiku. Sungguh itu menyiksaku……” aku terdiam, tak bisa melanjutkan kata-kataku.
“Lalu apa yang kau inginkan dariku sekarang? Bukankah kau masih bersama Chae Won?”
“Tidak, aku sudah putus dengannya setahun yang lalu”
“Ohh..bagus sekali. Lalu kau menemuiku untuk mengobati lukamu itu? Sebagai pelarianmu?”
“Bukan Hyo Joo, aku menemuimu bukan untuk itu. Tapi aku telah menyadari kesalahanku selama ini. Maafkan aku karena selama ini aku mencoba menyangkal perasaanku. Sebenarnya sejak 2 tahun yang lalu aku mulai menyukaimu, tapi aku menyangkalnya karena aku terlalu takut bahwa aku akan menyakitimu”
 “Tapi apa yang kau lakukan kepadaku selama ini lebih menyakitiku” Air matanya menetes bersamaan dengan kalimat itu.
Hatiku sakit sekali melihatnya menangis seperti itu. Aku menghapus air matanya dengan tanganku. Aku tak kuasa melihatnya merasakan sakit seperti ini.
“Maafkan aku. Maafkan aku yang tak pernah mempedulikanmu dulu, maafkan aku yang tak pernah memandangmu.” Aku memeluknya. Ia menangis dalam pelukanku.

“Aku memaafkanmu, dan waktu memang terus berlalu dua tahun ini, tetapi tidak dengan cintaku” ia mengatakannya dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Senyum yang sangat spesial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar